15 Saksi Diperiksa, Ini Fakta Kasus Habib Bahar

JawaPos.com –  Habib Bahar bin Smith hingga kini belum memenuhi panggilan penyidik Bareskrim Polri. Adapun sebelumnya dia dipanggil karena diduga melakukan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kendati tidak hadir pada panggilan hari ini, kata Kepala Bagian Penerangan Umum Kombes Pol Syahar Diantono, polisi telah mengantongi sejumlah fakta. Hal itu didapat setelah penyidik Bareskrim Polri dan Polda Sumatera Selatan telah memeriksa 11 saksi. Lalu juga 4 orang saksi ahli mulai dari bahasa, ujaran kebencian, pidana, dan laboratoium forensik.

Juga, memeriksa delapan bukti yang telah disita terkait dengan peristiwa tersebut. Kesimpulannya kata Syahar, bahwa benar telah dilaksanakan acara penutupan Maulid Arba’in pada 8 Januari 2017 di Gedung Ba’alawi, Jalan Ali Ghatmir Lorong Sei Bayas, Kelurahan 10 Ilir, Kecanatan Ilir Timur 3, Palembang. Acara tersebut dihadiri kurang lebih 1.000 orang, dengan penceramah Habib Bahar Bin Smith.
 
“Bahwa benar ceramah yang dilakukan oleh Sadara Habib Bahar Bin Smith dalam rekaman yang beredar di media sosial sama dan sesuai dengan ceramah yang dilaksanakan dalam acara penutupan Maulid Arba’in,” ujar Syahar di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin (3/12).

Atas dasar tersebut, pihaknya lantas akan memanggil kembali Habib Bahar untuk dimintai keterangan. “Saat ini tim penyidik Bareskrim mengirim surat panggilan baru kepada Habib Bahar Smith untuk dimintai keterangan pada hari Kamis, 6 Desember 2018 , di Dit Pidum Bareskrim,” ucap Syahar.

Diketahui, Bareskrim Polri telah menerima laporan terhadap Habib Bahar bin Ali bin Smith atas ucapannya yang dianggap menghina Presiden Jokowi. Laporan tersebut didaftarkan oleh seorang bernama La Kamarudin pada Rabu kemarin (28/11). 

Dia diduga melanggar Pasal UU Nomor 1 Tahun 1946 KUHP No 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis, UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 2008 tentang ITE, serta Pasal 207 KUHP, Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b angka 1 dan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2).

Sementara itu, laporan yang sama juga dilayangkan Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid di Polda Metro Jaya. Menurut Muannas, ucapan Bahar bin Smith telah merendahkan Presiden Jokowi.

“Tidak pantas orang yang disebut habib dan ulama berkata kasar dan penuh kebencian seperti itu,” katanya dalam keterangan resmi.

Muannas menyebutkan, dalam vidio berdurasi 60 menit itu salah satu ucapan Habib Bahar yakni ‘kalau kamu ketemu Jokowi, kamu buka celananya itu, jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu.’ Perkataan tersebut dikatakannya bukanlah sebuah kritik atau ceramah yang beradap. 

Dalam laporan, Muannas menduga Habib Bahar melanggar pasal 28 ayat (2) Jo. Pasal 45 A ayat 2 UU RI No.19 Tahun 2018 Tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE dan Pasal 4 huruf b angka 2 Jo. Pasal 16 UU RI No. 40 Th. 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Ernis dan Pasal 207 KUHP dengan ancaman pidana lebih dari 5 tahun penjara.

(dna/JPC)